22nd
Not a lot of people will care.
As much sucks as it sounds, that’s just how things work.
Life is life and it’s not going to be easy.
You go around wearing your heart on your sleeve and you’d realize how much it sucks. You care a lot, and people would think it’s okay to hurt you over and over again just because you care. Or people would think of you as a bother and tell you how annoying you are.
And it’s kinda sad, because one day you would think that you’ve had enough and then you feel you’re too tired to care…
…and finally you’d stop caring too.

I had a dream last night, about rainbow.
And I met you there… in that dream of mine. You with your green bike, and me with that old red bike I almost forget I ever had once.
I smiled to you, and you smiled back. And without a word we padded our bike and headed for the rainbow, chasing it.
Saat ini mungkin kata ‘pulang’ terdengar begitu ringan.
“Aku pulang.” Kembali ke rumah.
Seolah kata ‘pulang’ hanya berlaku ketika kau menyebut ‘rumah’ sebagai tujuan akhirnya. Membuatmu berpikir bahwa mungkin selama ini arti ‘rumah’ itu sendiri ter-under estimasi.
“Kau sudah dewasa. Untuk apa lagi pulang?”
Apa arti pulang memang sesempit itu? Hanya ketika kau butuh pulang untuk bertemu ibu dan bercerita tentang betapa hebat dirimu ketika tak menangis meskipun jatuh dari pohon jambu?
“Aku pulang.”
“Tak mau pergi lagi?”
“Mungkin. Nanti.”
Selamat malam, Malam…
Apa kabarmu malam ini? Aku ingin bicara… sebentar saja… dalam hening biasa yang kita berdua sama-sama suka.
Aku rindu padamu, kau tahu? Pada langitmu yang tak pernah menjemukan… pada gelapmu yang tak lagi menakutkan… pada dinginmu yang kadang terasa meremukkan… juga pada heningmu yang sangat suka membuatku gila.
Hahaha, kau pasti ingat itu… heningmu… yang aku cinta sekali tapi juga benci setengah mati. Hening yang menenangkanku, tapi juga menggangguku. Yang memintaku tidur tapi juga memaksaku berfikir tentang jalur-jalur.
Kita sering berbicara berdua, dengan bahasa berbeda yang kita sama-sama tak mengerti tapi tetap tak perduli. Bahasamu yang cuma waktu… berdetak hening dalam rasa dingin yang membuatku kaku. Dan bahasaku cuma rasa… tak beraksara, karena denganmu aku tak perlu mendefinisikan apa-apa.
Hey, Malam…
Aku rasa kita sama. Kesepian dalam sisa asa.
Aaaah… aku tak bisa tidur malam ini.
#huwooosyalala~ ~(—)~
Pell: “…But we’re not fighting, we’re protecting.”
Vivi: “Is there a difference?”
Pell: “They each have a different purpose.”
(One Pice ch. 208 - The Protecting God)
I always love dualism.
Just like I love relativity.
Kayak dualitas cahaya, di mana dia bisa jadi gelombang dan jadi partikel di waktu bersamaan, lu juga bisa ketemu momen yang terasa pahit tapi juga manis, atau terasa benar tapi juga salah.
-My Private Bench - Bittersweet- [Unpublished]